Selamat Jalan Sahabatku Deniro Sutra S. Simanjuntak
- U-Report
Di sepanjang jalan menuju rumah Almarhum, aku berusaha menyadarkan diriku. Aku berusaha menentang apa yang telah dikatakan teman-teman jika Sutra telah meninggal. Kugoreskan senyuman di bibirku. Dan ketika sampai di tujuan, aku mulai merasa kalau apa yang aku rasakan dan harapkan itu sangat mustahil. Terlihat tenda, terlihat banyak orang memiliki wajah sedih, terlihat sesosok lelaki yang sedang menangis. Tepat di belakang Yuendi aku berdiri, tiba-tiba saja dia berkata kepadaku, “Kamu kuat gak nanti waktu masuk ke dalam?” tanyanya. “I...i..iya,” jawabku dengan penuh keraguan.
Aku pun hanya tertunduk menangis di belakangnya. Ketika aku dan dia mulai memasuki pintu kedua menuju jenazah, mataku terbelalak melihat sosok lelaki yang bebadan bidang dan berkepala plontos itu terbaring kaku tak bernafas. Aku melihat Hanson yang begitu histeris di samping tubuh kaku itu. Aku melihat David yang bergetar tak kuasa menahan rasa sedih nya. Aku juga melihat sosok lelaki yang berusia lanjut untuk tetap tegar menerima kenyataan. Dan juga aku melihat sosok ibu yang tak rela bila anaknya pergi meninggalkannya.
Aku tak sadar jika aku memegang tangan Yuendi dan memeluk tubuhnya. Aku menangis di pundaknya. Di pundak lelaki cuek yang selama ini aku anggap tak ada. Sekarang aku percaya bahwa temanku yang selalu menyapaku abang ini telah tiada. Dan aku yakin, di balik semua ini Sutra ingin menunjukkan kepadaku jika sosok lelaki cuek yang kukenal itu ternyata dapat menjadi sandaran dan penopang air mataku ketika aku tak lagi dapat menahan air mata.
Jenazah Sutra akan dimakamkan pada jam 2 siang itu. Sepulang sekolah, aku bergegas mandi dan beristirahat agar aku dapat megikuti prosesi pemakamannya. Ketika di jalan menuju pemakaman, aku berada tepat di belakang mobil jenazah yang membawa tubuh Sutra. Aku mengikuti jejak terakhir Sutra. Aku mengantarkannya ke rumahnya yang baka.
Sesampainya di pemakaman, aku melihat kotak yang menjadi pembaringan Sutra diturunkan ke dalam lubang tanah itu. Hatiku pilu melihatnya. Namun, apa gunanya karena inilah jalannya. Aku berkata di dalam hatiku, “Sut, maafin aku ya. Selama ini aku sudah sering mengejek kamu. Selama ini, aku tidak pernah minta maaf. Selamat jalan Sutra,temanku. Tetap jadi anak yang baik ya di sana.” Aku yakin Sutra pasti mendengar itu. Dan aku yakin dia pasti akan selalu ada di tengah-tengah kami. Sebab kami menyayanginya.