- Amusing Planet
Musa sang gubernur turun tangan dan mempercepat penaklukan Spanyol. Dengan 10.000 tentara Arab dan Arab Suriah. Musa menuju Spanyol dan menyerang kota-kota kecil yang dihindari Thariq, seperti Medina Sidon dan Carmona. Sevilla, kota terbesar dan pusat intelektual Spanyol yang pernah menjadi ibu kota Romawi, bertahan cukup lama tetapi akhirnya menyerah pada Juni 713. Merida juga takluk pada bulan itu.
Dalam masa yang sama, Thariq terus melancarkan penaklukan dan kota-kota lain yang tersisa berhasil direbut, antara lain Saragossa, Aragon, Leon, Asturia dan Galicia.
Segera setelah rangkaian penaklukan itu, Spanyol menjadi salah satu provinsi kekaisaran Islam dengan gubernur pertamanya, Abd al-Aziz, putra Musa ibn Nushair. Penguasa muslim kemudian menyematkan nama Al-Andalus kepada wilayah itu, yang kemudian lebih dikenal dengan Andalusia. Musa hanya menyisakan sedikit wilayah kecil di sebelah utara dan timur semenanjung untuk ditaklukkan oleh penerusnya. Dalam waktu singkat, kira-kira tujuh tahun, penaklukan semenanjung itu sepenuhnya rampung. Para penakluk kemudian tinggal di sana selama berabad-abad.
Pendudukan Spanyol sebenarnya awal babak kedua penaklukan Islam setelah Nabi Muhammad wafat pada 8 Juni 632, sepuluh tahun setelah Rasulullah dan sahabat-sahabatnya hijrah atau pindah dari Mekah ke Madinah, Arab Saudi. Babak pertamanya dimulai pada masa Nabi kemudian dilanjutkan empat khalifah penerusnya yang disebut khulafaur rasyidin: Abu Bakar (632-634), Umar (634-644), Ustman (644-656), dan Ali (656-661). Kemudian diperluas lagi oleh Muawiyah sebagai khalifah kelima yang menggantikan Ali.
Muawiyah menjadi khalifah pada 661-680. Keturunan ketiga Umayyah itu sebelumnya menjabat gubernur Suriah dan, setelah menggantikan Ali, dia menetapkan Damaskus sebagai ibu kota kekhalifahan.
Sejarawan Philip K Hitti dalam bukunya, A Short History of the Arabs, menyebut Muawiyah si cerdik dan piawai dalam urusan pemerintahan. Muawiyah berhasil menegakkan stabilitas di wilayah kekuasaan kekhalifahan setelah dilanda kekacauan akibat konflik berdarah menyusul pembunuhan khalifah Ustman dan Ali.
“Kecakapan Muawiyah dalam urusan pemerintahan,” kata Hitti, “sangat mengesankan. Ia berhasil mengubah keadaan negeri yang kacau-balau menjadi satu komunitas muslim yang teratur dan sejahtera. Angkatan perangnya terkenal sebagai angkatan perang yang paling disiplin dalam sejarah kemiliteran Islam.”