- VIVA.co.id/Adi Suparman
Di perguruan tinggi, kelompok ini menjadikan masjid dan musala kampus sebagai basis kegiatan mereka. Paham radikalisme masuk dan menyebar melalui kelompok-kelompok dan kegiatan keagamaan. Mereka juga masuk melalui kelas menengah. Menurut Halili, kelompok ini sadar betul bahwa masyarakat urban, masyarakat kelas menengah itu mengalami semacam kekeringan spiritual, dan mereka memiliki kebutuhan spiritualitas urban baru yang bisa mengisi kebutuhan rohani mereka.
![]()
Disdik Depok menarik buku-buku yang dinilai berisi ajaran radikal
Ia menunjuk gerakan hijrah, gerakan hijabers sebagai ruang untuk mengisi kekeringan spiritual bagi masyarakat perkotaan yang setiap harinya disibukkan dengan aktivitas perkotaan, atau karena selama ini mereka tertundukan oleh sistem kapitalisme yang menuntut mereka bekerja dengan sangat sempurna, dan akhirnya merasa membutuhkan "hiburan" ekstra.Â
"Ini juga cara mengisi spiritualitas secara mudah dan instan, menjanjikan surga yang cepat, akan ada kenikmatan kehidupan yang abadi pascakematian, dan sebagainya. Jadi kesadaran akan kebutuhan spiritualitas masyarakat urban ini berbeda dengan masyarakat perkampungan yang kebanyakan memilih pesantren misalnya untuk menjadikan sarana mengisi kekosongan spiritual mereka. Dan kelompok kanan ini hadir di situ," ujar Halili kepada Vivanews, Selasa, 30 Juli 2019.Â
Dengan mengisi dan menguasai musala dan masjid, baik di kampus atau di kementerian/lembaga, kelompok lalu menyuapi kaum urban dengan ajaran-ajaran keagamaan. Berbeda dengan masyarakat rural yang lebih memilih pesantren sebagai cara mengisi kekosongan spiritual, maka kaum urban memilih sendiri masjid dan musala mereka. Celah perbedaan itulah yang diambil oleh kelompok kanan untuk merebut paham keberagamaan kaum urban.
Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Ismunandar mengakui terjadinya penyebaran paham radikalisme di kampus semakin menguat. Menurut dia, ada tiga hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, kurang/parsialnya pemahaman keagamaan banyak mahasiswa dibarengi dengan semangat belajar agama yang tinggi. Hal ini menjadi lahan doktrinasi kelompok radikal.Â
Kedua, kurangnya wawasan atau pengetahuan kebangsaan mahasiswa. Ketiga, faktor psikologis yang merujuk kepada pencarian jati diri dan sifat polos mahasiswa, terutama mahasiswa baru yang rentan (jauh dari orang tua) dan tengah mengalami krisis identitas (unfinished becoming).