SOROT 564

Radikalisme Kelas Menengah

Deklarasi Anti Radikalisme Perguruan Tinggi di Jawa Barat' di Aula Graha Sanusi Universitas Padjajaran Kota Bandung, Jumat (14/7/2017).
Sumber :
  • VIVA.co.id/Adi Suparman

Di perguruan tinggi, kelompok ini menjadikan masjid dan musala kampus sebagai basis kegiatan mereka. Paham radikalisme masuk dan menyebar melalui kelompok-kelompok dan kegiatan keagamaan. Mereka juga masuk melalui kelas menengah. Menurut Halili, kelompok ini sadar betul bahwa masyarakat urban, masyarakat kelas menengah itu mengalami semacam kekeringan spiritual, dan mereka memiliki kebutuhan spiritualitas urban baru yang bisa mengisi kebutuhan rohani mereka.

img_title 620 Anak Terpapar Radikalisme Lewat Media Sosial Sepanjang 2026

Disdik Depok tarik buku yang diduga berisi ajaran radikal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Disdik Depok menarik buku-buku yang dinilai berisi ajaran radikal

img_title Qodari: 388 Siswa Sekolah Unggul Garuda Lolos ke Kampus Dunia

Ia menunjuk gerakan hijrah, gerakan hijabers sebagai ruang untuk mengisi kekeringan spiritual bagi masyarakat perkotaan yang setiap harinya disibukkan dengan aktivitas perkotaan, atau karena selama ini mereka tertundukan oleh sistem kapitalisme yang menuntut mereka bekerja dengan sangat sempurna, dan akhirnya merasa membutuhkan "hiburan" ekstra. 

"Ini juga cara mengisi spiritualitas secara mudah dan instan, menjanjikan surga yang cepat, akan ada kenikmatan kehidupan yang abadi pascakematian, dan sebagainya. Jadi kesadaran akan kebutuhan spiritualitas masyarakat urban ini berbeda dengan masyarakat perkampungan yang kebanyakan memilih pesantren misalnya untuk menjadikan sarana mengisi kekosongan spiritual mereka. Dan kelompok kanan ini hadir di situ," ujar Halili kepada Vivanews, Selasa, 30 Juli 2019. 

img_title Bukan Sekadar Cari Kerja, Generasi Muda Didorong Jadi Pencipta Lapangan Kerja

Dengan mengisi dan menguasai musala dan masjid, baik di kampus atau di kementerian/lembaga, kelompok lalu menyuapi kaum urban dengan ajaran-ajaran keagamaan. Berbeda dengan masyarakat rural yang lebih memilih pesantren sebagai cara mengisi kekosongan spiritual, maka kaum urban memilih sendiri masjid dan musala mereka. Celah perbedaan itulah yang diambil oleh kelompok kanan untuk merebut paham keberagamaan kaum urban.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Ismunandar mengakui terjadinya penyebaran paham radikalisme di kampus semakin menguat. Menurut dia, ada tiga hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, kurang/parsialnya pemahaman keagamaan banyak mahasiswa dibarengi dengan semangat belajar agama yang tinggi. Hal ini menjadi lahan doktrinasi kelompok radikal. 

Kedua, kurangnya wawasan atau pengetahuan kebangsaan mahasiswa. Ketiga, faktor psikologis yang merujuk kepada pencarian jati diri dan sifat polos mahasiswa, terutama mahasiswa baru yang rentan (jauh dari orang tua) dan tengah mengalami krisis identitas (unfinished becoming).

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut