- VIVA.co.id/Adi Suparman
Tak MengakuiÂ
Hasil riset Setara Institute ternyata tak begitu saja diterima oleh perguruan tinggi negeri yang masuk dalam daftar terpapar menguatnya paham radikalisme. Rektor perguruan tinggi yang dikonfirmasi Vivanews membantah temuan tersebut.Â
Rektor Unair Mohammad Nasih mengaku belum menerima informasi saat ini tentang menguatnya radikalisme di kampusnya, seperti hasil riset yang dikeluarkan Setara Institute. Ia mengatakan, mahasiswa di Unair baik-baik dan normal saja. Seluruh kegiatan di Unair juga dilaksanakan sesuai SOP.Â
"Jika pun ada kemungkinan satu dua saja, itu pun tidak hanya ekstrem kanan, tetapi juga kiri. Sejak kapan masuk (radikalisme di Unair) dan seperti apa penyebaran dan salurannya, silakan tanya kepada yang meneliti (Setara Institute)," katanya melalui jawaban tertulis.Â
![]()
Mahasiswa baru Unair
Juru bicara Unair Suko Widodo, mempertanyakan metodologi penelitian yang dilakukan oleh Setara Institute, termasuk pada penetapan sampel PTN. Menurutnya, kualitas penelitian itu subyektif, kata Suko.
Kendati begitu, Suko mengamini upaya kelompok tertentu menyusupi Unair dengan paham radikal memang ada sejak beberapa tahun lalu. Dia juga mengiyakan paham-paham radikal lebih banyak menyusup di fakultas-fakultas eksakta, seperti Fakultas Kedokteran. Tetapi, dia menegaskan, itu dulu. "Kedokteran itu gudangnya, tapi itu dulu, dan itu pun sebenarnya kecil," katanya.
Pakar komunikasi politik itu menegaskan, yang kerap menjadi sasaran adalah mahasiswa baru. Misalnya, kalau bingung itu dulu kan banyak diambil kemudian dicarikan kos. "Itu modusnya dicarikan kos, tapi sekarang langsung kita dampingi, ada asramanya, dan semacamnya," ujarnya.Â
Ia memastikan Unair terus berupaya menangkal dan mencegah merebaknya paham radikal di lingkungan kampus. Di kalangan pengajar, misalnya, rektorat memberikan pilihan dan sanksi secara tegas apabila ditemukan dosen atau pegawai yang terpapar. Ia mengisahkan, dua tahun lalu seorang dosen diberikan sanksi tegas setelah secara terbuka mengumumkan di media sosial bahwa ia pendukung Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
Hal lain yang dilakukan Unair adalah mencegah radikalisme melalui pendekatan kebudayaan. Suko mengambil contoh, tradisi salawatan yang semula jarang dilaksanakan di masjid kampus, perlahan digalakkan. Ahli pengetahuan agama yang nasionalis kerap diundang.Â