- VIVA.co.id/Adi Suparman
![]()
Diskusi soal radikalisme di kampus
Tapi ternyata tak hanya orang dewasa yang terpapar geliat radikalisme. Sebuah tulisan di ABC.net.au, bahkan menceritakan seorang anak di Yogyakarta yang tanpa disadari orangtuanya, ternyata telah terpapar radikalisme dari tempat ia bersekolah. Keterkejutan dialami oleh Bagas (bukan nama sebenarnya), ayah dari seorang putri yang berusia 9 tahun. Suatu malam Bagas dikagetkan dengan pertanyaan anaknya yang malam-malam tiba-tiba menangis ketakutan.Â
"Pah, nanti kalau Palestina diserang Israel, kita juga ikut mati enggak, Pah?" Cerita Bagas, seperti dikisahkan oleh ABC Indonesia. Berusaha tetap tenang, Bagas lalu menanyai sang putri perihal asal-muasal pertanyaan itu.
Pertanyaan sang putri membuat dirinya terkejut. Anaknya mengetahui informasi soal konflik Israel-Palestina dari gurunya di sekolah A. Bocah ini belajar di sekolah dasar Islam yang berjargon sebagai sekolah pencetak hafiz qur'an. Di situs resminya, sekolah ini mengklaim telah memiliki 80 cabang di belasan provinsi Indonesia.
Kekagetan Bagas malam itu sebenarnya puncak dari segala pertanyaan yang ada di kepalanya. Di sekolah anaknya tak ada bendera merah putih, tak ada upacara bendera, tak pernah menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan selalu masuk pada hari libur nasional yang berkaitan dengan perayaan agama lain di luar Islam.
"Saya pernah berkirim pesan dengan salah satu guru. Dan dia pakai logo bendera HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) sebagai foto profilnya," ujar Bagas.Â
Kampus dan Kelas Menengah
Menurut riset yang dilakukan Setara Institute, ada tiga wacana keagamaan yang dominan di 10 kampus yang mereka teliti. Pertama,  propaganda bahwa keselamatan hidup, baik pribadi maupun bangsa, hanya bisa diraih lewat ketaatan terhadap “jalan Islam," yaitu jalan yang mengikuti Alquran dan hadits. Hal ini, menurut Halili adalah sebuah pandangan puritan yang membatasi kebijaksanaan agama ini hanya di dua sumber utama tersebut.
Kedua, propaganda bahwa Islam sedang di dalam ancaman musuh-musuhnya. Musuh yang dimaksud ialah kalangan Kristen, Zionisme, imperalisme Barat, kapitalisme, serta kaum Muslim sekular dan liberal. Ketiga, ajakan untuk melakukan perang pemikiran (ghazw al-fikr) dalam rangka melawan berbagai ancaman tersebut demi kejayaan Islam.Â