- VIVAnews/ Muhamad Solihin
"Aduh, kalau kayak gitu enggak deh, kalau dandanan enggak sih, kalau makanan suka penasaran, nyoba-nyoba resto Korea, cuma gitu aja," tambah Savira Maharani, mahasiswi yang juga menjadi ketua basis penggemar boyband EXO di Indonesia.
![]()
Sejumlah K-Popers mengaku ikut terpengaruh dari urusan gaya pakaian, berbahasa, hingga selera makanan.
Dalam kasus Hallyu, penetrasi budaya yang terjadi masuk dalam kategori penetrasi damai atau penetration pasifique. Artinya, budaya Korea yang masuk sebenarnya tidak mengakibatkan konflik bagi budaya Indonesia itu sendiri.
"Dalam pertemuan dua budaya selalu ada dua arus. Arus pertama itu mengikut, tapi biasanya ketika aliran pengikutnya sudah besar, pasti ada arus counter culture. Jadi kalau saya percaya, sekuat-kuatnya suatu budaya yang masuk, biasanya akan ada gerakan pula dari budaya-budaya yang meng-counter atau yang melakukan perlawanan, karena budaya-budaya tandingannnya itu pasti muncul, walaupun dia mungkin jadi minoritas. Pastinya, memang budaya utama kita ikut terpengaruh juga terhadap kerasnya arus budaya Korea," tutur Daisy lagi.
Budayawan sekaligus pegiat seni perfilman, Eddie Karsito, menjelaskan, tidak ada yang salah dengan budaya apa pun di era global seperti sekarang ini, termasuk budaya Korea. Yang terpenting, budaya tersebut masih positif, sejalan, dan selaras dengan budaya Indonesia.
"Itu kan konteksnya budaya, jadi jangan juga salah memahami terminologi budaya. Budaya itu kan tidak sebatas kesenian, tapi secara terminologi budaya, itu segala daya upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup itu disebut budaya. Nah, sebenarnya kita kan sudah dikasihkan warning, ketika ada perjanjian pasar bebas (Asean Free Trade Area / AFTA), kita kan sudah sering kali diingatkan bahwa bangsa Indonesia ini seyogyanya dapat meningkatkan kompetensinya di semua aspek, karena di era perdagangan bebas itu eranya persaingan bebas, jadi kalau kita tidak siap untuk itu, maka kita dilindas," ujar Eddie kepada VIVA.co.id.
Namun tak dimungkiri, dampak negatif dari produk budaya Korea ini juga ada. Menurut Daisy, salah satunya adalah adiktif atau kecanduan.
"Sisi negatifnya tentu saja salah satu faktornya ada adiktif atau comodity fetishism. Artinya ada gejala orang tidak berfikiran secara rasional menyukai produk itu sampai tergila-gila tanpa alasan. Terus kemudian muncul juga realitas semu. Realitas semu itu jadi dia sudah tidak bisa membedakan lagi antara dunia real-nya dengan dunia film, K-Pop, atau K-Wavenya ini. Itu sebenarnya yang harus dihindari," terangnya.