- VIVAnews/ Muhamad Solihin
Namun, sayangnya, tugas untuk menghasilkan produk alternatif yang tak kalah saing bukan perkara mudah. Pasalnya, budaya tiru-meniru di Indonesia masih sangat kuat. Demi tren pasar, dimunculkan produk-produk serupa yang justru, dianggap Daisy, bisa melemahkan industri kreatif dalam negeri sendiri.
"Pemerintah harus memberi peluang untuk industri pop culture kita. Misalnya, membuat semacam sayembara membuat mini seri lokal dengan membawa nilai-nilai keindonesiaan yang berkualitas tetapi juga kekinian, bukan sekadar normatif gitu loh. Berikan anak-anak muda panggung-panggung, ruang-ruang apresiasi agar mereka bisa berkiprah baik di lokal, nasional, maupun internasional. Jadi jangan sekedar men-support para pengusaha saja," tambah Daisy.
Wakil Ketua Badan Ekonomi Kreatif, Ricky Pesik, pun setuju. Menurutnya, kecermatan Korea dalam memasuki pasar global memang layak dijadikan referensi.
"Demam K-Pop sebenarnya sudah lama. K-Pop ini bisa jadi sebuah contoh bagaimana produk kreatif budaya populer Korea bisa dipasarkan dengan sangat baik. K-Pop ini kan sudah dirintis sejak 15 tahun lalu dan dikenal di pasar Indonesia bahkan dunia. Nah itu cara yang mesti diadopsi untuk menaklukan dunia, mesti belajar dari situ," ujarnya.
Gempuran artis Korea yang datang ke Indonesia pun ditanggapi positif oleh Bekraf. Menurutnya, hal itu bisa membuka kerja sama Indonesia-Korea lebih luas lagi. Saat ini, Bekraf mengaku sedang melakukan pendekatan agar pasar industri kreatif Indonesia juga bisa dibuka di Korea.
"Kita tidak mendukunglah adanya perluasan pasar kreatif mereka di sini. Tapi, strategi yang kita ambil, kita ajak mereka (Korea) kerja sama. Selain itu, tingkatkan konsumsi dalam negeri, dikemas dengan baik, dan tingkatkan kualitasnya. Apalagi dari kuliner, konstribusinya besar di ekonomi kreatif sebesar 40 persen. Kami juga sudah upayakan memfasilitasi dengan ratusan program kami terkait upaya meningkatkan ekonomi kreatif itu," tambah Ricky.
![]()
Konser G-Dragon di ICE BSD.
K-Pop adalah produk dari para produsen aktif yang akan terus berusaha menangkap dan mengembangkan kebutuhan pasar. Industri ini akan terus berkembang selagi masih banyak peminatnya. Indonesia, harus bisa menjadi pesaing yang seimbang agar tidak melulu menjadi konsumen dan penikmat saja. Indonesia pun harus bisa menghadirkan pilihan-pilihan alternatif yang berkualitas dalam persaingan global yang akan semakin sengit ini.