Indonesia Waspada Ancaman Bioterorisme
Kamis, 20 Agustus 2015 - 00:49 WIB
Sumber :
- REUTERS/Tyrone Siu
VIVA.co.id - Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo, Surabaya, memperingatkan tentang potensi dan ancaman bioterorisme, atau teror dengan senjata biologi berupa kuman penyakit atau virus.
Rumah sakit terbesar dan paling memadai di Jawa Timur itu telah mengantisipasinya. Namun, pemerintah dan masyarakat diingatkan tetap harus waspada.
Tak ada konteks, atau kejadian luar biasa yang menyertai peringatan rumah sakit rujukan utama untuk kawasan timur Indonesia itu.
Memang, ada kasus wabah Middle East respiratory syndrome corona virus (MERS-CoV) di Arab Saudi, Korea Selatan, dan beberapa negara lain pada kurun waktu Mei-Juni 2015. Tetapi, itu tidak sampai ke Indonesia.
Ada juga kasus wabah ebola di Guinea tenggara awal tahun ini, dan kemudian menyebar ke Liberia, Sierra Leone, Nigeria dan Mali.
Beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, Spanyol, Jerman, Norwegia, Prancis, Italia, Swiss, dan Inggris Raya, merawat pasien yang terkena virus itu di Afrika Barat. Namun, tak ada orang Indonesia yang terjangkit wabah itu.
Virus dan intelijen
Peringatan yang mula-mula disampaikan Wakil Direktur RSUD Dr. Soetomo, Kohar Hari Santoso, itu sesungguhnya tidak tegas dan tak lugas tentang ancaman bioterorisme. Tak disebut pula, dengan detail bioterorisme macam apa yang patut diwaspadai.
Kohar cuma memberitahukan bahwa RSUD Dr. Soetomo telah menyiapkan fasilitas khusus untuk menangkal ancaman bioterorisme. Artinya, rumah sakit itu siap kalau sewaktu-waktu ada kejadian luar biasa, yang kemudian dikenali, atau dicurigai sebagai bioterorisme.
Tetapi, ada pesan lain yang disampaikan Kohar bersamaan dengan peringatan itu. Dia bilang, potensi ancaman bioterorisme kian terbuka, seiring penerapan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akhir 2015. Soalnya, dalam MEA, lalu lintas, atau mobilitas masuk-keluar orang dari dan ke Indonesia menjadi lebih intensif.
Pernyataan Kohar dapat diringkas begini: "Makin banyak orang yang keluar, atau masuk dari dan ke Indonesia kala MEA dimulai kelak. Tak ada yang menjamin orang asing masuk ke Indonesia, bebas virus mematikan. Begitu juga, tak ada orang Indonesia yang steril dari mikroorganisme berbahaya, setelah berpergian dari luar negeri."
Halaman Selanjutnya