Usaha Keras Roti Legendaris Tetap Eksis
- VIVA.co.id/Bimo Aria
"Karena taste nya, kemudian roti-roti ini jadi nostalgia, legenda, history-nya, itu yang bikin usaha roti bertahan," ujar Ucu.
Misalnya, dia memberi contoh, "Kita beli roti susu pabrikan, Tan Ek Tjoan kalau dimakan biasa, enggak ada rasanya. Tetapi, kalau dipanggang rasanya lebih enak yang ini (yang jadul), kalau yang lain enggak."Â
Karena punya nilai history, seringkali rasa dari roti jadul bukan yang utama bagi seseorang untuk jadi pelanggan setia. "Walaupun rasanya enggak lebih enak, harga lebih murah, tetapi bikin kangen."
Roti zaman sekarang dengan zaman dahulu diyakini Ucu punya perbedaan. Dari segi proses produksi hingga pengemasan.Â
"Bedanya jauh, zaman dulu banyak kandungan air, dan peralatan enggak secanggih sekarang, dulu masih dibanting-banting dan memang perajin roti kebanyakan di pedesaaan. Kayu Manis misalnya, industri rumahan, roti rakyat kecil, mereka lebih banyak air. Kalau roti sekarang banyak susu, banyak aditif lain misal aroma, kuning telur lebih banyak. Kalau zaman dulu, bahkan enggak pakai telur."
Dari teksturnya pun, lanjut Ucu, memberi pengaruh rasa yang sangat berbeda. Jika menggunakan susu, roti akan terasa lebih lembut dan wangi. Maklum, roti dahulunya makanan orang Eropa. Mulai masuk ke Indonesia saat zaman penjajahan Belanda.Â
Brand-brand roti legendaris pun diyakininya masih bisa bertahan hingga sekarang, karena merupakan usaha keluarga dengan marketing-nya pun dari keluarga. Namun, jika generasi berikutnya tak berusaha mengembangkan bisnis usahanya, dan tidak mengaplikasikan proses pemasaran dengan teknologi canggih, Ucu khawatir, usaha roti legendaris akan punah.Â
"Tetap stuck di situ. Tapi sekarang, masih banyak yang bertahan, ada Tan Ek Tjoan, Lauw masih bertahan. Tapi mati enggak, hidup enggak. Terus mereka yang bikin sudah tua-tua karena enggak diregenerasikan." (asp)