Usaha Keras Roti Legendaris Tetap Eksis

Roti Tan Ek Tjoan
Sumber :
  • VIVA.co.id/Bimo Aria

Namun, ada beberapa toko yang mulai tutup seperti di kawasan Panglima Polim dan Cikini.  "Nah kita lagi cari tempat yang cukup bagus, karena Cengkareng dan Ciputat ini pasarnya lebih ke middle low. Jadi, kita enggak bisa dapat omzet yang bagus, di Ciputat baru dua tahun sebelumnya di Cikini."

img_title Panduan Pintar Mengatur Keuangan untuk Generasi Muda: Dari Frugal Living hingga Investasi

Josey juga mengaku, harga properti di Cikini yang terlalu mahal, membuatnya tak sanggup jika harus melanjutkan produksi di kawasan tersebut. Saat ini, ia bersyukur masih ada 90 karyawan yang setia membantunya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski bisa dibilang, usahanya masih lancar, tetap saja, Josey sering merasa ketar-ketir. Sebab, keuntungan yang diperoleh dari usaha ini tidak besar, karena jumlah toko yang sedikit dan biaya produksi yang cukup besar. 

img_title Seni Thriving, Bukan Sekadar Surviving: Cara Menjaga Work-Life Balance di Era Serba Cepat

Ia pun sangat ingin, menambah jumlah toko, namun, investasi yang cukup besar membuatnya selalu mengurungkan niat itu. Meski tidak memiliki keuntungan yang besar, Josey merasa optimis, usaha roti ini akan terus berjalan lancar.

"Kalau ini sampai mati sayang. Pertama, karena ini legend, dan akan ada berapa banyak orang yang mesti kehilangan pekerjaan. Jadi, buat saya, saya akan berusaha keras mempertahankan ini."

img_title Lumbung Padi yang Melimpah Modal: Transformasi Karawang Menjadi Pusat Rotasi Uang Nasional

Josey yakin, kesuksesan Tan EK Tjoan hanya menunggu waktu. Namun, ia tetap hati-hati dengan banyaknya persaingan, termasuk usaha roti Lauw yang juga legendaris menjadi saingannya. "Dulu mereka di bawah kita, sekarang mereka bisa di atas kita." Untuk menghadapi persaingan ini, ia akan berusaha mengembalikan imej Tan Ek Tjoan menjadi lebih bagus lagi.

Lauw

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sama seperti Josey, penerus usaha roti Tan EK Tjoan, Distributor roti Lauw di kawasan Menteng, Yohanes Suwandi juga masih ingat betul, awal mula bergabung mengembangkan usaha roti Lauw yang konon sudah berdiri sejak tahun 1940-an. Meski baru bergabung sekitar tahun 1990-an,  Yohanes tahu, cerita pertama kali Lauw berdiri. "Jadi, pertama dari Bogor, Fatmawati, sama di sini (Menteng), itu yang paling pertama."

Lauw, sempat jadi brand roti idola. Apalagi, ketika toko-toko roti Lauw mulai berdiri tahun 1980-an. Aneka varian rasanya tak jauh berbeda dengan Tan EK Tjoan, tetapi Lauw tetap punya rasa khas sendiri. Sayang, sekarang ruang gerak bisnis roti satu ini tak selebar dulu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut