Isi Ramalan Prabu Jayabaya yang Sebut Cerminkan Pemimpin Indonesia

Jayabaya
Sumber :
  • Istimewa

Jakarta – Pada Kitab Musasar Jayabaya disebutkan bahwa, di bait 18 disebutkan sempat meramalkan para pemimpin cerdas yang dimiliki Indonesia.

img_title DPR Setujui RUU Ekstradisi RI-Rusia jadi Undang-Undang

Adapun bait 18 berbunyi:

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dene jejuluke nata, Lung gadung rara nglingkasi, Nuli salin gajah meta, Semune tengu lelaki, Sewidak warsa nuli, Ana dhawuhing bebendu, Kelem negaranira, Kuwur tataning negari, Duk semana pametune wong ing ndesa.

img_title Markas PPP Masih Sah di Bawah Kepemimpinan Mardiono, Polisi Diminta Siaga

Artinya, "Nama rajanya Lung Gadung Rara Nglikasi, kemudian berganti Gajah Meta Semune Tengu Lelaki. Enam puluh tahun menerima kutukan, sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan. Waktu itu pajaknya rakyat adalah...."

Ilustrasi pemimpin.

Photo :

img_title Prabowo: Target 25 Ribu Rumah tapi Realisasi 26 Ribu, Agak Anomali

Lung Gadung Rara Nglikasi memiliki makna pemimpin yang pernah penuh inisiatif (cerdas) namun memiliki kelemahan sering tergoda wanita. Pertanda ini menunjuk pada presiden pertama RI, Soekarno.

Hal itu sebagaimana tercantum dalam buku "Misteri Ramalan Jayabaya : Siapa Pemimpin Selanjutnya di Negeri Ini".

Sedangkan, Gajah Meta Semune Tengu Lelaki bermakna pemimpin yang kuat, karena disegani atau ditakuti, namun akhirnya terhina atau nista. Pertanda ini menunjuk pada presiden kedua RI, Soeharto.

Dalam bait ini juga dikatakan bahwa selama ini negara menerima kutukan, sehingga tidak ada kepastian hukum.

Kemudian Jayabaya konon juga meramalkan adanya perseteruan antara kedua pemimpin besar di Indonesia, layaknya perseteruan trah Pajang yang disimbolkan sebagai Jaka Tingkir, dan trah Mataram Pakubuwana. Hal ini termaktum dalam bait 20 yang berbunyi:

Peta kekuatan Indonesia di media sosial.

Photo :
  • Twitter

Bojode ingkang negara, Narendra pisah lan abdi, Prabupati sowang-sowang, Samana ngalih nagari, Jaman Kutila genti, Kara murka ratunipun, Semana linambangan, Dene Maolana Ngali, Panji loro semune Pajang Mataram.

Artinya, "Negara rusak, raja berpisah dengan rakyat, bupati berdiri sendiri-sendiri, kemudian berganti zaman Kutila, rajanya Kara Murka, lambangnya Panji Loro Semune Pajang Mataram."

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bait ini menggambarkan situasi negara yang kacau. Pemimpin jauh dari rakyat, dan dimulainya era baru dengan apa yang dinamakan otonomi daerah sebagai implikasi bergulirnya reformasi (zaman Kutila).

Karakter pemimpinnya saling menjegal untuk menjatuhkan (raja kara murka). Perlambang Panji loro semune Pajang Mataram bermakna ada dua kekuatan pimpinan.

Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad

RUU Kepariwisataan Disahkan DPR jadi Undang-Undang

Komisi VI DPR jelaskan RUU tersebut dibutuhkan agar pembangunan pariwisata dilaksanakan secara lebih inklusif berkelanjutan dan memberikan manfaat langsung kepada warga

img_title
VIVA.co.id
2 Oktober 2025
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut