Ekspansi Pasar Terhambat Regulasi
- VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi
Â
Selain India apakah ada kerja sama dengan negara lain?
Ada kerja sama pengembangan dan ada kerja sama penjualan. Selain dengan India ada juga dengan beberapa negara Timur Tengah. Kemudian negara-negara Asia yang sudah berjalan. Bahkan, ada sejumlah negara baru yang mencoba bekerja sama penjualan, kerja sama produksi, bahkan ikut investasi.
Selain alutsista, Pindad juga memproduksi nonalutsista, bagaimana perkembangannya?
Pindad ini ada dua direktorat, satu Direktorat Bisnis Militer dan Direktorat Industrial. Bisnis di industrial itu ada cor dan tempa untuk peralatan-peralatan rel kereta api, kemudian untuk divisi Marine di pelabuhan atau kapal kami buat crane, dan alat support kapal lainnya. Kemudian ada bahan peledak juga, tetapi untuk komersial yang kami jual untuk digunakan di lahan tambang, kemudian ada alat berat, eskavator. Kami juga memproduksi alat-alat pertanian juga. Itu semua yang non-military.
Apakah itu semua juga diekspor?
Itu semuanya sekarang masih untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Mulai dari eskavator, traktor, traktor tangan. Kemudian marine itu banyak sekali galangan-galangan kapal yang bekerja sama dengan Pindad. Kereta api yang breaking system itu dari Pindad.Â
Saat ini lebih banyak mana, yang produk militer atau nonmiliter?
Kalau sekarang masih 70 persen military, 30 persen yang industrial. Tetapi ke depan visi kami adalah melakukan juga penajaman di sisi industrial.Â
Kenapa?
Karena yang diukur dalam pendapatan di BUMN itu kan minimum pertumbuhan pendapatan 12 persen. Jadi kami memang harus naik pendapatan per tahunnya. Nah, itu dari sisi mana? Sisi military dan maupun dari sisi industrial pastinya. Sehingga tagline Pindad ke depan bagaimana kami bicara membangun incorporated yang unggul. Itu kami sudah bicara Pindad baik dari segi produksi industrial maupun military.
Selanjutnya, soal industri pertahanan hingga kendala ekspansi
Sejumlah kalangan mengatakan industri pertahanan kita telat. Tanggapan Anda?Â
Industri pertahanan tidak bisa berbuat banyak kalau kita tidak didukung dengan industri hulu. Bagaimana mengubah raw material itu menjadi komponen jadi yang siap mendukung industri, misalnya pelat baja, pelat besi, kemudian bahan pendukung pembuat amunisi, itu kan semuanya kita masih impor.