Warga Sipil Jadi Korban Ledakan Amunisi, TNI: Ada Kesalahan Prosedur Kepala Gudang
- Youtube ILC
Jakarta, VIVA –Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen Kristomei Sianturi angkat bicara soal adanya warga sipil yang menjadi korban tewas dari insiden ledakan saat pemusnahan amunisi kedaluwarsa di Garut, Jawa Barat.
Kristomei menyebut warga sipil tidak pernah dilibatkan dalam pemusnahan atau peledakan amunisi kedaluwarsa. Sebab, tugas mereka hanya memasak dan membantu mengangkat barang.
"Masyarakat sipil dalam pemusnahan atau dalam peledakan di Garut itu biasanya mereka hanya membantu dalam misalnya tugas mengangkat barang, kemudian memasak. Tidak dilibatkan dalam peledakan," kata Kristomei kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, dikutip Selasa, 27 Mei 2025.
Ledakan amunisi kedaluwarsa di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut
- VIVA.co.id/Diki Hidayat (Garut)
Namun dari hasil investigasi, Kristomei mengatakan ada kesalahan prosedur oleh Kepala Gudang Pusat Amunisi (Kagupusmu) yang juga menjadi korban ledakan tersebut. Sehingga, warga sipil turut menjadi korban.
"Hasil investigasi ada kesalahan prosedur yang dilakukan oleh almarhum, sudah meninggal, Kagupusmu. Bahwa ternyata masyarakat sipil ini ikut terlibat di dalam peledakan itu, nah itulah yang bisa menjadi korban tadi," tuturnya.Â
"Bahwa, amunisi kedaluwarsa sifatnya nggak normal, digesekkan sedikit saja bisa meledak," sambung Kristomei.
TNI Ubah SOP Pemusnahan AmunisiÂ
Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengatakan pihaknya akan mengubah standar operasional prosedur (SOP) terkait pemusnahan amunisi yang sudah kedaluwarsa.
Hal itu ditegaskan Agus sebagai bentuk evaluasi imbas adanya ledakan dalam proses pemusnahan amunisi kedaluwarsa di Garut, Jawa Barat. Dalam peristiwa tersebut, 4 anggota TNI dan 9 warga sipil meninggal dunia.Â
"Memang ini menjadi masukan buat kita, SOP-nya nanti akan kita ubah. Supaya personil yang melaksanakan pemusnahan itu bisa aman. Kita koreksi ke dalam nanti, mudah-mudahan ke depan tidak terjadi seperti itu," kata Agus kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 26 Mei 2025.
Meski begitu, Agus menekankan pemusnahan amunisi kedaluwarsa di Garut itu sudah sesuai dengan SOP. Selain itu, lokasi pemusnahan juga jauh dari perkampungan masyarakat.
"Sebenarnya memang tempatnya ini memang harus jauh dengan perkampungan, masyarakat. Tempat itu sudah jauh sih dengan masyarakat, dengan kampung," ungkap dia.
"Hanya memang yang tadi saya sampaikan, jadi amunisi yang sudah expired itu memang mudah meledak," jelas Agus.
