- ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Suryahanda, yang mengatakan dirinya adalah penggemar Rhoma Irama sejak usia SD, menyebut Rhoma Irama sebagai sosok yang paling berjasa dalam perjalanan musik dangdut di tanah air. “Bahkan beliau sempat mau dibunuh,” ujarnya kepada VIVA.
Penggemar Rhoma Irama, Suryahanda
Ia berkisah, sebelum berhaji Rhoma membawakan dangdut sebagai musik biasa bernada Melayu. Tapi setelah Rhoma dan 11 rekannya di Soneta pergi haji, Raja Dangdut itu mulai menggeser musiknya menjadi musik dakwah. Rhoma bahkan sempat mengubah nama Soneta group menjadi Voice of Muslim. Setiap kali akan manggung, Rhoma akan menyapa penggemarnya dengan mengucap “assalamu’alaikum.”
Dari situlah masalah berasal. Musik dangdut yang identik dengan sensualitas, keseksian, bahkan keseronokan dijadikan media berdakwah oleh Rhoma. Bahkan kesantunan Rhoma mengucap ‘assalamu’alaikum” di atas panggung setiap menjelang pentas dianggap sebuah kesalahan. Rhoma dikejar-kejar, termasuk diancam akan dibunuh karena mencampuradukkan dakwah dengan dangdut. Tapi Rhoma bergeming. Ia terus mencipta dan menyanyikan lagu-lagu dakwah bahkan kritik sosial.
Kemampuan Rhoma menulis syair dan menggubah lirik juga dikenang dengan baik oleh penggemar lainnya. Komar, dari kelompok pecinta dangdut Cengkareng. Pria berusia 32 tahun itu mengaku lebih bisa tersentuh dengan lagu-lagu Rhoma yang bernada kritik sosial. “Kalau lirik cinta-cintaan saya tak tertarik, “ ujarnya.
Musik yang sangat dekat dengan kelas grass root, dan kerap berada dalam hubungan yang tidak harmonis dengan musik lain membuat dangdut dalam syair lagunya sering kali muncul unsur protes, persis seperti yang dilakukan oleh Rhoma. Menurut seorang etnomusikologi dari Barat, Jeremy Wallach Ph.D dangdut bisa disebut sebagai musik underground. “Dia underground karena mewakili sikap yang kritis,” ujarnya.
Dan meluasnya perkembangan dangdut sekarang menurutnya menandakan era baru yang lebih segar dan optimis. “Dangdut adalah era optimis, industrinya sangat luas. Sebelum marak pembajakan, industri masih kuat, dan ada sikap optimis selama reformasi,” ujarnya menambahkan.
Zaman terus bergerak. Rhoma tak terlalu sering lagi mencipta lagu baru. Meski demikian, lagu-lagu Rhoma yang bertema kritik sosial tak lekang tegilas zaman yang serba cepat. Dangdut yang sempat dimanfaatkan Rhoma sebagai sarana berdakwah mulai tergeser lagi. Tapi hal itu dianggap lumrah oleh senior yang lain, sebab tak semua penyanyi menganggap dangdut adalah sebuah sarana penyampai pesan. Sebagian lain menganggap bernyanyi dangdut adalah sebuah kebanggaan dan kegembiraan.