SOROT 469

Menggantang Harapan di Jalan

Ilustrasi sejumlah pengojek online menggelar aksi damai di depan kantor Go-Jek Denpasar, menuntut perusahaan memperbaiki sistem aplikasi, memaksimalkan pemasaran dan membuat program pelatihan peningkatan mutu serta mitra Go-Jek.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Wira Suryantala

VIVA.co.id – Hari masih pagi. Jam di tangan masih menunjuk angka enam. Namun, keriuhan sudah terdengar di rumah Rahmat Afandi. Suara motor yang sedang dipanaskan beradu dengan kicau burung dari dua kurungan yang digantung di atas teras. Sesekali terdengar teriakan Rahmat meminta anak-anaknya segera berkemas.

img_title Kronologi Lengkap dan 8 Fakta Prajurit TNI Pukul Ojol di Pontianak, Sudah Berdamai tapi Proses Hukum Tetap Berlanjut

Tak ada meja dan kursi di teras rumah yang berlokasi di Jalan Kampung Melayu Besar, Bukit Duri, Jakarta Selatan ini. Hanya ada rak sepatu dari papan bekas yang terlihat sudah reot dan usang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tak berselang lama, Rahmat ke luar dari dalam rumah dan menghampiri motornya yang masih menyala. Jaket kombinasi warna hitam dan hijau bertuliskan 'GRAB' terlihat membungkus badan pria yang sudah berusia setengah abad tersebut. Ia lalu pamit dan langsung pergi, mengantar kedua anaknya sekolah.

img_title Gojek Pastikan Layanan Berjalan Normal Meski Ada Demo Pengemudi Ojol

"Ya begini ini setiap hari. Habis mau gimana lagi. Nyari kerja kan sekarang juga enggak gampang, kebutuhan setiap hari sudah pasti ada. Mau enggak mau kita nge-Grab," ujar Rahmat Affandi usai mengantar anaknya sekolah.

Ia mengaku sudah lama menjadi driver ojek online.  "Sudah hampir dua tahunan," ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis 5 Oktober 2017.

img_title Dituding Settingan, GoTo, Grab, inDrive dan Maxim Benarkan Mitranya Hadirkan Perwakilan Ojol Bertemu Wapres Gibran

Meski pendapatannya dari ojek online tak menentu, namun uang yang didapat bisa sedikit menambal kebutuhan keluarganya. "Ya Alhamdulillah-lah. Meskipun enggak tentu. Yaa kita cukup-cukupin lah," ujar bapak tiga anak ini, sambil matanya sesekali melirik layar telepon genggamnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebelum menjadi driver ojek online, Rahmat bekerja sebagai satpam di perusahaan pengiriman barang.  Saat ramai-ramai ojek online, dia memutuskan keluar dari perusahaan. "Dulu kan lagi ramai-ramainya nge-Grab. Katanya sih penghasilannya lumayan, ya sudah kita masuk Grab," ujarnya mengenang. [Baca juga: Mitra Tak Setara]

Hal senada disampaikan Jajat (28). Driver Gojek ini mengaku tertarik ngojek online karena tergiur untung besar. Dulu ia bekerja di showroom mobil second, bagian mesin. “Terus lagi ramai-ramainya ojek online. Waktu itu lagi booming-boomingnya. Ya sudah saya ikutan daftar," ujarnya saat ditemui di seputaran kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Jakarta, Rabu 4 Oktober 2017. [Lihat infografik: Tiga Raksasa]

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut