- VIVA/Fajar Sodiq
"Bila kondisi ekonomi tidak membaik maka kampanye keberhasilan zaman Orba lebih enak bisa ditelan. Jualan Orde Baru berhasil, 'enakan zaman Soeharto' dibanding reformasi," ujar Hendri.
Karena itu, jangan terkejut jika di masyarakat kini sudah sejak 2013, beredar massal sejumlah foto, kaos, stiker atau poster yang menampilkan sosok Soeharto sebagai figurnya.
"Piye kabare, iseh penak jamanku tho" (Bagaimana kabarnya, masih enak zaman ku kan). Demikian salah satu slogan yang masif muncul dimana pun, dan begitu mudah ditemui.
![]()
Baliho dengan figur Soeharto. (ANTARA FOTO/Andika Wahyu)
Pesan itu begitu jelas dan kuat. Ia menyihir agar orang ingat kembali pada masa di era Soeharto. "Mereka mencoba untuk membalik lembaran sejarah bahwa Soeharto atau keluarganya dan rezim Soeharto tidak ditulis dalam catatan noda yang kelam dalam sejarah Indonesia, paling tidak itu yang mereka inginkan," ujar Sosiolog UGM Muhammad Najib Azca seperti dikutip dalam BBC.
Ya, ada mantra yang sedang diembuskan untuk menghidupkan kembali era keemasan Soeharto. Mimpi Gemah Ripah Loh Jinawi yang dulu menjadi slogan menjadi sebuah modal kuat untuk mengulik simpati publik.
Bisa jadi, mantra itu berpengaruh. Namun bisa juga ia menjadi basi di era kekinian, yang banyak melibatkan para pemilih muda yang tak mengenal mewah atau tidaknya rezim Orde Baru.
"Pasar mereka tidak terlalu besar. Yang bisa mereka mainkan adalah memori orang yang mengalami langsung Orde Baru, bukan pemilih muda," pengajar ilmu politik di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Mada Sukmajati. (umi)