- ANTARA FOTO/Didik Suhartono
Rumah Budiana tak sampai satu kilometer dari SMA Negeri 1 Depok, dan ia merasa kesal karena pendaftaran kali ini tak bisa dilakukan secara online. Akibatnya orangtua sudah menyerbu sekolah, bahkan sejak dini hari.
Berbeda dengan dua tahun sebelumnya, di mana ia hanya mendaftarkan anak pertamanya melalui online dan tinggal menunggu hasil pengumuman tanpa perlu antre gila-gilaan dan berdesak-desakkan sejak dini hari.
Protes orangtua terkait sistem zonasi
Proses pendaftaran PPDB di kota Tangerang juga sempat rusuh. Hari pertama pendaftaran pada Senin, 24 Juni 2019, seluruh SMU Negeri langsung diserbu oleh orangtua murid. Kepala Sekolah SMA Negeri 18 Kabupaten Tangerang Herri Supriatna mengatakan, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang zonasi membuat masyarakat kelimpungan.
"Masyarakat baru mengeluhkan susahnya anaknya mendapatkan sekolah karena kurangnya pengetahuan soal zonasi yang harusnya diumumkan dulu, diberikan pengertian dulu supaya masyarakat tidak kelimpungan cari sekolah ketika anaknya ini engga diterima di sekolah tersebut," ujar Herri.
Di media sosial, curhatan orangtua yang anaknya memiliki nilai ujian nasional tinggi tapi tak bisa mendaftar ke sekolah favorit karena jauhnya jarak dari rumah ke sekolah terus bermunculan selama masa PPDB. Umumnya mereka mengeluhkan bahwa usaha anak-anak mereka belajar mati-matian jadi sia-sia karena tak bisa masuk ke sekolah idaman.
Sistem Zonasi, Abaikan Prestasi?
Penerimaan Peserta Didik Baru untuk tahun ajaran 2019/2020 untuk sekolah negeri menuai kontroversi. Hari pertama pendaftaran protes merebak di berbagai kota. Di Surabaya, Depok, Yogya, Mojokerto dan beberapa kota lain menolak sistem yang sebenarnya sudah diberlakukan sejak tiga tahun lalu ini.
Protes kali ini menguat karena pemerintah menetapkan kuota yang sangat tinggi untuk PPDB melalui sistem zonasi, yaitu mencapai 90 persen. Sementara sebelumnya hanya 55 persen. Sejumlah orangtua merasa tak terima karena anak mereka yang memiliki nilai ujian tinggi tak bisa mendaftar di sekolah favorit karena jarak rumah mereka jauh dari sekolah yang diinginkan.
Gayatri, seorang tua murid di Depok menolak sistem zonasi. Sistem ini dianggap merepotkan sekolah karena akhirnya sekolah harus menerima siswa dengan kondisi nilai yang rendah. "Sekolah mengeluh karena selama ini murid-murid jadi tidak sama, pengajaran semua berhak masuk. Tapi untuk sekolah tertentu yang awalnya murid-muridnya kemampuannya tinggi, jadi sekolah agak kedodoran," ujarnya kepada VIVA.