'Berantas Terorisme, Jangan Seperti Nguber Layangan'
- VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian
Jadi beberapa negara maju telah mengembangkan institusi intelijen sedemikian rupa bahkan mereka memunculkan institusi intelijen yang lebih spesifik. Jadi bukan hanya satu. Amerika badan inteijenya beberapa. Australia, badan intelijenya beberapa. Karena memang kompleksita dan bentuk ancaman dan tantangan yang ada.
UU intelijen kita baru membagi adanya BIN, Badan Intelijen TNI, Badan Intelijen Polri, kejaksaan dan lembaga pemerintah yang lain. Nah, lalu BIN diberi kewenangan menjalankan fungsi koordinasi. Jadi, BIN ini jantungnya penyelenggara intelijen di negara kita.
Kalau kita lihat kompleksitas tantangan, ancaman yang ada memang harus diakui sejak reformasi BIN ini sebagaimana TNI menjadi institusi yang agak terpinggirkan, karena persepsi atau trauma masa lalu, sehingga bicara BIN bicara TNI pada sejak reformasi sampai beberapa tahun kemudian menjadi tidak populer. Dan itu juga tercermin dari berkurangnya dukungan anggaran dari negara. Ini yang menyebabkan terjadinya kelemahan-kelemahan intelijen secara sistemik sejak reformasi.
Sekarang orang baru pada sadar, misalnya, ternyata TNI alutsistanya sudah tua-tua, sebentar-sebentar pesawatnya jatuh, kapalnya tenggelam dan seterusnya. BIN mengalami hal yang sama. Ternyata SDM nya sudah semakin berkurang, kompetensi SDMnya sudah mulai tidak cocok dengan perkembangan zaman. Ini karena efek psikologis peralihan masa Orba ke Orde Reformasi. Tapi, dengan adanya UU Intelijen, ini ada amanat untuk kita memoderenisasi BIN.
Nah, apakah dalam perjalanan 4 tahun UU Intelijen, BIN sudah menjadi institusi tangguh dan profesional? Saya katakan belum. Belum. Tapi saya yakin mereka sudah bekerja secara maksimal dengan tugas pokok, fungsi dengan keterbatasan yang mereka miliki. Jadi kalau masih terjadi kasus-kasus terorisme ya nggak usah di Indonesia, di negara-negara maju di Eropa bahkan Amerika masih juga kecolongan.
Ini perlu kita cermati terus apakah kasus-kasus terorisme, separatisme yang masih terjadi. Sabotase dan yang lain-lain ini, terkait dengan kelemahan-kelemahan dari sisi operasional BIN atau ini ada kaitan dengan belum efektifnya fungsi koordinasi antar penyelenggara intelijen.
Apakah Anda setuju jika intelijen kita disebut gagal, bobol, atau kecolongan, dalam peristiwa Thamrin itu?